Ringkasan:
Ada banyak mitos tentang pemanis pengganti gula yang membuat penggunaannya masih sering dipertanyakan, mulai dari anggapan bahwa semua pemanis berasal dari bahan sintetis hingga kekhawatiran dapat menyebabkan kanker. Padahal, setiap jenis pemanis memiliki karakteristik dan bukti ilmiah yang berbeda.
Anggapan bahwa pemanis pengganti gula pasti menyebabkan kanker, otomatis menurunkan berat badan, atau menaikkan gula darah tidak bisa digeneralisasi. Bukti ilmiah menunjukkan efeknya dapat berbeda tergantung jenis pemanis, jumlah konsumsi, serta respons tubuh masing-masing.
Setiap pemanis pengganti gula memiliki karakteristik berbeda, mulai dari tingkat kemanisan, kandungan kalori, ketahanan terhadap panas, hingga efek jika dikonsumsi berlebihan. Oleh karena itu, penting memahami jenis pemanis dan menggunakannya secara bijak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Sejak kecil, sebagian besar dari kita sudah terbiasa dengan rasa manis dari gula. Ketika ingin mengurangi konsumsi gula, pemanis pengganti gula bisa menjadi salah satu pilihan. Namun, penggunaan pemanis pengganti gula masih sering menimbulkan pertanyaan. Ada yang menganggap semua pemanis dibuat dari bahan sintetis, bahkan ada pula yang khawatir pemanis dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Berbagai anggapan tersebut kemudian berkembang menjadi mitos yang membuat pemanis pengganti gula masih sering dipertanyakan. Lantas, apa saja yang benar dan mana yang hanya mitos? Yuk, cari tahu fakta seputar pemanis pengganti gula.
Fakta: Tidak Semua
Menurut World Health Organization (WHO), beberapa pemanis pengganti gula dibuat melalui proses sintesis, seperti aspartam, sakarin, dan sukralosa. Sementara itu, steviol glycosides merupakan pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana.
Namun, karena berasal dari bahan alami, bukan berarti pemanis tersebut otomatis lebih sehat atau boleh dikonsumsi sebanyak mungkin.
Penelitian dalam jurnal Molecules tahun 2023 menunjukkan bahwa steviol glycosides merupakan pemanis rendah atau tanpa kalori yang telah banyak diteliti dari aspek aktivitas pemanis, manfaat potensial, dan keamanannya. Meski demikian, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami berbagai efeknya pada kondisi dan dosis tertentu.
Nah, saat memilih pemanis pengganti gula, jangan hanya melihat apakah pemanis tersebut berasal dari bahan alami atau dibuat melalui proses sintesis. Sebaiknya, perhatikan jenis pemanis, jumlah yang dikonsumsi, serta penggunaannya dalam pola makan sehari-hari.
BACA JUGA: Apakah Pemanis Rendah Kalori Aman Digunakan Setiap Hari? Ini Fakta dan Batasan Konsumsinya
Fakta: Tidak Semua Pemanis Terbukti Menyebabkan Kanker
Karena sebagian pemanis dibuat melalui proses sintesis, sebagian orang khawatir pemanis pengganti gula dapat memberikan efek buruk bagi tubuh. Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah risiko kanker.
Namun, bukti ilmiah mengenai hubungan antara konsumsi pemanis pengganti gula dan risiko kanker masih beragam. Meta-analisis penelitian prospektif tahun 2022 tidak menemukan hubungan yang jelas antara konsumsi pemanis buatan dan risiko kanker secara keseluruhan.
Meski begitu, beberapa jenis pemanis perlu diperhatikan secara khusus. Pada tahun 2023, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan aspartam sebagai possibly carcinogenic to humans atau “mungkin bersifat karsinogenik pada manusia”. Klasifikasi ini didasarkan pada bukti yang masih terbatas dan menunjukkan adanya kemungkinan bahaya, bukan berarti aspartam terbukti menyebabkan kanker pada manusia.
Pada saat yang sama, Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) tetap mempertahankan batas asupan harian yang dapat diterima (acceptable daily intake/ADI) untuk aspartam sebesar 0-40 mg/kg berat badan per hari.
Jadi, anggapan bahwa semua pemanis pengganti gula dapat menyebabkan kanker tidak tepat. Setiap jenis pemanis memiliki bukti keamanan yang berbeda, sehingga penting untuk memperhatikan jenis pemanis dan jumlah yang dikonsumsi.

Image: Magnific
Fakta: Kalori Rendah, Tidak Otomatis Bikin Berat Badan Turun
Pemanis pengganti gula umumnya memiliki kalori yang sangat rendah, bahkan beberapa jenis hampir tidak mengandung kalori. Oleh karena itu, pemanis jenis ini sering dianggap dapat membantu menurunkan berat badan karena dapat mengurangi asupan kalori dari gula.
Namun, mengurangi asupan kalori dari gula tidak serta-merta membuat berat badan turun. WHO menyebut bahwa penggunaan non-sugar sweeteners (NSS) tidak menunjukkan manfaat jangka panjang yang jelas dalam mengurangi lemak tubuh, sehingga penggunaannya tidak direkomendasikan sebagai strategi utama untuk mengontrol berat badan dalam jangka panjang.
Artinya, mengganti gula dengan pemanis rendah atau tanpa kalori dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi asupan gula atau kalori, tetapi bukan “jalan pintas” untuk menurunkan berat badan. Menjaga berat badan tetap sehat tetap perlu didukung oleh pola makan seimbang dan gaya hidup aktif.
Fakta: Tidak Selalu Bikin Glukosa Naik
Gula pasir yang biasa kita konsumsi sebagian besar terdiri dari sukrosa, yaitu gula yang tersusun dari glukosa dan fruktosa. Ketika dikonsumsi, sukrosa dipecah oleh tubuh, sehingga glukosa dapat masuk ke aliran darah dan meningkatkan kadar gula darah.
Sementara itu, pemanis pengganti gula seperti aspartam, sukralosa, atau steviol glycosides tidak seperti gula pasir yang memberikan glukosa secara langsung. Oleh karena itu, mengganti gula dengan pemanis rendah atau tanpa kalori umumnya tidak memberikan efek yang sama terhadap kadar gula darah seperti mengonsumsi gula.
Hal tersebut juga diamati dalam penelitian tahun 2022 yang melibatkan 120 orang dewasa sehat. Peserta mengonsumsi sakarin, sukralosa, aspartam, atau stevia selama dua minggu.
Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi sakarin dan sukralosa dapat memengaruhi respons gula darah, tetapi respons setiap individu tidak selalu sama. Sementara itu, aspartam dan stevia tidak menunjukkan perubahan gula darah yang signifikan dalam penelitian tersebut.
Artinya, pemanis pengganti gula tidak selalu membuat gula darah naik, dan respons tubuh terhadap setiap jenis pemanis dapat berbeda. Selain itu, penelitian ini hanya dilakukan selama dua minggu pada orang dewasa sehat, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampaknya dalam jangka panjang dan pada kelompok masyarakat lainnya.
BACA JUGA: 5 Cara Menikmati Minuman Manis Favorit Tanpa Khawatir Lonjakan Gula Darah
Fakta: Setiap Jenis Pemanis Punya Karakteristik Berbeda
Masih dilansir dari WHO, pemanis pengganti gula dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu non-sugar sweeteners (NSS) dan poliol (gula alkohol). Keduanya sama-sama memberikan rasa manis, tetapi memiliki karakteristik dan kandungan kalori yang berbeda.
NSS seperti aspartam, sukralosa, sakarin, acesulfame-K, dan steviol glycosides memiliki tingkat kemanisan yang tinggi sehingga dapat digunakan dalam jumlah sangat sedikit. Kelompok pemanis ini umumnya memiliki kandungan kalori yang sangat rendah hingga hampir tidak ada.
Ketahanan terhadap panas juga berbeda-beda pada setiap jenis NSS. Misalnya, aspartam kurang stabil jika terkena panas dalam waktu lama sehingga lebih cocok digunakan pada makanan atau minuman yang tidak memerlukan pemanasan lama.
Sementara itu, pemanis poliol seperti eritritol, xylitol, sorbitol, dan maltitol memiliki rasa manis yang mirip gula, tetapi kandungan energinya lebih rendah dibandingkan gula. Poliol dapat digunakan dalam berbagai makanan dan minuman. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, beberapa jenis poliol dapat menyebabkan kembung, gas, atau diare pada sebagian orang.
Jadi, tidak semua pemanis pengganti gula berasal dari bahan yang sama dan memiliki karakteristik yang sama, ya.

Setelah mengetahui berbagai fakta di atas, salah satu pilihan pemanis pengganti gula zero calorie adalah Nulife Sweetener, yang menggunakan sorbitol sebagai bahan utama dan dikombinasikan dengan acesulfame-K, sucralose, serta steviol glycosides untuk memberikan rasa manis.
Nulife Sweetener juga dapat digunakan pada makanan dan minuman panas maupun dingin. Jadi, penggunaannya cukup fleksibel, mulai dari campuran teh, kopi, atau jus, hingga untuk memasak dan membuat kue.
Dengan zero calorie dan rasa manis yang konsisten saat digunakan dalam berbagai suhu, Nulife Sweetener dapat menjadi salah satu pilihan bagi Anda yang ingin mengurangi penggunaan gula dalam keseharian.
Jadi, tidak semua anggapan tentang pemanis pengganti gula bisa dianggap benar begitu saja. Ada pemanis yang berasal dari bahan alami, ada pula yang dibuat secara sintetis, dengan karakteristik dan cara penggunaan yang berbeda. Begitu juga dengan dampaknya terhadap tubuh yang dapat dipengaruhi oleh jenis pemanis, jumlah konsumsi, dan kondisi masing-masing orang.
Karena itu, jangan hanya berpatokan pada klaim seperti “alami”, “bebas gula”, atau “nol kalori”. Kenali jenis pemanis yang digunakan, perhatikan takarannya, dan tetap jadikan pola makan seimbang sebagai bagian utama dari upaya mengurangi konsumsi gula.
Referensi
World Health Organization. (2023). Use of non-sugar sweeteners: WHO guideline. World Health Organization.
U.S. Food and Drug Administration. (2014). High-intensity sweeteners. U.S. Food and Drug Administration.
Orellana-Paucar, A. M. (2023). Steviol glycosides from Stevia rebaudiana: An updated overview of their sweetening activity, pharmacological properties, and safety aspects. Molecules, 28(3), 1258. https://doi.org/10.3390/molecules28031258
European Food Safety Authority. (2026). Re-evaluation of salt of aspartame-acesulfame (E 962) as food additive. EFSA Journal. https://doi.org/10.2903/j.efsa.2026.10259
Lenhart, A., & Chey, W. D. (2017). A systematic review of the effects of polyols on gastrointestinal health and irritable bowel syndrome. Advances in Nutrition, 8(4), 587–596. https://doi.org/10.3945/an.117.015560